Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Akibat Pemanasan Global

Langit terlihat begitu cerah
Sebagian orang anggap itu indah
Tiada satupun awan menutupinya
Sang mentari bersinar dengan jumawa

Di saat aku membeli es krim
Dalam bungkusnya ia meleleh
Di saat kubeli ayam mentah
Matanglah ia jadi ayam bakar
Dan di saat kuambil air dari sumur
Mendidih ia jadi air matang
Juga di saat aku hendak memasak mie instan
Matanglah ia dengan sendirinya

Lalu kupandang lagi langit itu
Yang datar biru cerah warnanya
Dan tak bisa tersentuh oleh kegelapan sekecil apapun
Pupil mataku yang tadinya lebar selebar langit itu
Sekarang ia sempit seperti lahan di kotaku
Yang hanya dipenuhi bangunan kejam
Para budak dari keserakahan manusia akan uang

Dan tubuhku yang semakin hangus
Terbakar ultraviolet yang tak terbendung
Karena lapisan ozon semakin lenyap
Tanpa ada satupun pohon rindang yang membantunya
Menyerap seluruh polutan di muka bumi ini
Karena pohon yang rindang
Tidak mereka anggap bisa menghasilkan uang

Cukup sudah panas ini
Membakar mataku
Mengeringkan otakku
Mendidihkan darahku
Menguapkan seluruh keringatku

Rasa panas ini
Menembus pori-pori kulitku
Meresap sampai ke sumsum tulang
Mencekik seluruh organ tubuhku
Bergejolak dalam jiwaku yang penuh keheningan

Seluruh akal pikiranku
Lenyap dilalap panasnya api pemanasan global
Yang telah dilahirkan
Oleh biadabnya ulah anak manusia
Yang tak pernah mau
Mengambil tanggung jawab
Atas semua perbuatan merusaknya
Sampai seluruh alam ini hangus
Menyisakan abu penyesalan

Pemanasan Global

Terkoyak pelindung alam penepis sinar biaskan panas lampaui batas
Lebar sekat udara menganga diatas sana
tak kuasa hembuskan angin surga

Tak pelak penghuni bumi berlari
diburu cuaca yang makin tak pasti
Badai berlari mengelilingi bumi
tak pernah berhenti menyakiti
Seakan membalas prilaku penghuni
yang tak pernah mau mengerti

Hakekat perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup yang sejati
Peredam panas dan produsen oksigen yang tak pernah berhenti
Hutan lestari makin langka untuk ditemui

Beku kutup menciut berpacu meningginya air laut
Kobar api menyala tak disengaja
hanguskan hutan diberbagai sudut benua
Panas cuaca laksana bara magma menyala
Hadirkan siksa api neraka

lagi2 pemanasan global,,hfff,,,

suara hujan tak kunjung henti
padahal sudah setengah hari,
terus menyirami
kota yang sudah malam
hujanya pun, hujan asam
ditambah efeknya yang seram
semua berkat mesin - masin polusi
air inipun mulai memenuhi kali

tak ada lagi tanah tuk diresapi
gerombolan air terus bertumpuk
terus bertambah tinggi,
orang - orang hanya bisa memaki - maki
tanpa melakukan sedikitpun aksi
cuma bisa melayani diri sendiri

berhektar - hektar hutan pepohonan
semuanya ditebas dengan arit
dijadikan kebun kelapa sawit
planet inipun mati perlahan

ah,
dinginnya freon AC
membuat bumi semakin opname
bumi yang bulat mulai berkarat

DUNIA KITA

Telah hilangkah dunia kita
Yang begitu indah
Atau kita tak merasa
Hancurkan semua

Saat amarah tiba kita kan cuma pasrah
Entah apa yang bisa hentikan semua
Semua akan menjerit, pasti akan terjepit
Dan terusik didalam dunia yang sempit

Dunia tak memihak, siapa dan dimana
Karena kita telah merusak wajahnya
Tanpa rasa kita habiskan semua
Tinggalkan sisa sesak sampah dalam dosa

Telah hilangkah dunia kita
Yang begitu indah
Atau kita tak merasa
Hancurkan semua

Pecahkan suara dan tubuh berlumur darah
Perih sakit akan menjadi hal yang biasa
Hijau dunia telah berubah menjadi merah
Awan hitam selimuti bagaikan neraka

Isi dunia akan segera berbalik arah
Tak setia menjadi senjata pemusnah
Perih rasa ketika semuanya tiba
Kepada siapa teriak untuk mendapatkan iba

Jakarta, 04 Januari 2009